Buka Pola Pikir di Era Digital, Kelompok MAHESA Desa Kediten, Kecamatan Plantungann Gelar Sosialisasi Pendidikan dan Content Creator untuk Karang Taruna

KENDAL — Menghadapi pesatnya arus teknologi dan informasi, kelompok Mahesa Desa Kediten bergerak cepat dengan menginisiasi program edukasi transformatif bagi generasi muda lokal. Pada Senin, 6 Juli 2026 di Balai Desa Kediten, kelompok Mahesa menjadwalkan agenda Sosialisasi bertajuk “Pendidikan untuk Membuka Pola Pikir dalam Transformasi Digital: Content Creator Education” yang menyasar anggota Karang Taruna Desa Kediten.

Acara ini sengaja diinisiasi oleh Kelompok Mahesa bukan tanpa alasan. Langkah tersebut diambil sebagai respons nyata terhadap permasalahan mendasar yang dihadapi Desa Kediten, di mana motivasi remaja untuk bersekolah masih tergolong rendah, dan rata-rata tingkat pendidikan masyarakatnya baru menyentuh jenjang Sekolah Dasar (SD). Berangkat dari latar belakang mayoritas anggota Kelompok Mahesa yang menempuh program studi kependidikan, mereka merasa terpanggil untuk menyelenggarakan kegiatan yang menekankan urgensi dan pentingnya melanjutkan pendidikan. Kegiatan sosialisasi yang diselenggarakan kelompok Mahesa Desa Kediten ini bertujuan untuk membekali pemuda desa agar memiliki fondasi intelektual serta keterampilan adaptif di tengah maraknya media sosial dan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Dalam pemaparan materi sesi pertama bersama Senopati Mahesa, narasumber menekankan bahwa pendidikan formal maupun kesetaraan (seperti program Paket C) bukan lagi sekadar formalitas pencarian kertas ijazah untuk melamar pekerjaan atau naik karier. Di tengah banjir data, pendidikan berperan penting sebagai “lensa kritis” guna menyaring disinformasi dan hoaks yang berseliweran di media sosial. Apalagi, data transisi ekonomi pengetahuan tahun 2026 memproyeksikan penurunan drastis pada permintaan tenaga tak terampil dan digantikan oleh tingginya kebutuhan akan tenaga terampil yang memiliki logika berpikir kritis serta kemampuan problem-solving. Selain hardskill, sosialisasi ini turut menggarisbawahi pentingnya pemeliharaan soft skills yang tidak bisa digantikan oleh robot maupun algoritma AI, seperti empati, kecerdasan emosional, kepemimpinan, negosiasi, serta kreativitas.

“Pendidikan bukan sekadar persiapan untuk hidup, melainkan hidup itu sendiri. Di era AI, pemuda harus mampu mengendalikan teknologi sebagai mitra kolaborasi, bukan justru menjadi objek yang disetir oleh algoritma media sosial,” ujar Senopati, narasumber sosialisasi pendidikan.

Memasuki sesi kedua, suasana sosialisasi diarahkan menjadi lebih praktis dengan fokus pada dunia kreativitas digital bersama Anjela Octaviana. Para peserta diajak memahami ekosistem sebagai seorang Content Creator di platform YouTube dan TikTok. Kelompok Mahesa membedah tuntas operasional backend menggunakan YouTube Studio, mulai dari Tahap Setup Akun & Keamanan, Perencanaan Konten, Membaca Data Analisis, dan Monetisasi Finansial. Sebagai bentuk komitmen nyata pasca-pemaparan, dilanjut dengan diskusi interaktif yang membuahkan hasil konkret dengan terbentuknya 3 kelompok kerja Karang Taruna yang akan berfokus memproduksi konten kreatif berbasis potensi khas desa Kediten, di antaranya:

 1. Kelompok Potensi Desa: Berfokus mengangkat keunggulan sektor perkopian lokal dan agrowisata alam yang dimiliki Desa Kediten.

 2. Kelompok Perbengkelan (Motor): Mewadahi kreativitas seputar dunia otomotif roda dua dan mekanik lokal.

 3. Kelompok KDMP: Mengangkat profil, edukasi, serta publikasi digital mengenai Koperasi Desa Merah Putih, yang mana koperasi kebanggaan warga Kediten ini merupakan koperasi tertinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian 1.385 mdpl.

Guna mendukung langsung produktivitas dan keberlanjutan produksi konten dari ketiga kelompok tersebut pasca-acara, Kelompok Mahesa memberikan fasilitas berupa Akun CapCut Pro Gratis kepada para peserta. Melalui sosialisasi ini, kelompok Mahesa berharap pemuda Karang Taruna Desa Kediten tidak hanya tergugah untuk terus menempuh pendidikan yang lebih tinggi demi memutus rantai masalah desa, tetapi juga cakap beradaptasi dengan perubahan teknologi yang radikal serta diharapkan mampu merintis karier yang stabil dan mandiri di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *